Jumat, 28 September 2012

Senyawa Anti HIV-AIDS

Selama ini penyakit HIV-AIDS adalah penyakit yang dianggap paling mengkhawatirkan dan mematikan yang ada di dunia ini, salah satu sebabnya ialah belum ada obat ampuh untuk mengatasi penyakit ini. Oleh sebab itu langkah-langkah sosialisasi  pencegahan dan penelitian untuk meghadapi penyakit ini pun  dilakukan dimana-dimana di seluruh penjuru dunia serta mendapat dukungan dari banyak pihak.
Beberapa waktu yang lalu dunia dikejutkan dengan penemuan sejenis senyawa untuk penangkalnya. Seperti penemuan besar lainnya dalam sejarah,  pada banyak kasus ditemukan secara tidak sengaja, maka demikianlah juga adanya dengan penemuan senyawa anti HIV-AIDS ini. Ketidaksengajaan ini dilakukan oleh seorang asisten profesor yang sedang melakukan penelitian di dalam laboratoriumnya, sehingga menyita perhatian dunia.
HIV-AIDS (Human Imunodeficiency Virus-Acquired Immune Deficiency Sydrome) adalah sejenis penyakit yang menyebabkan hilangya kekebalan tubuh seseorang. Ketika kondisi kesehatan kita menurun ataupun ketika kita sedang dalam kadaaan lelah, dengan mudah kondisi tubuh kita terasa lemah dan jatuh sakit. Bisa dibayangkan bila kita hidup tanpa ada imun ataupun kekebalan tubuh terhadap penyakit. Penderita yang mengidap  penyakit ini seakan-akan tidak memiliki harapan untuk hidup, karena sistem kekebalan tubuhnya sudah lemah ataupun sudah rusak sehingga sangat mudah terserang penyakit.
Informasi dari Wikipedia menyebutkan para ilmuwan berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika-Sub-Sahara.  Diperkirakan AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak dilaporkan tanggal 5 Juni 1981 dan penularannya penyakit ini juga dapat terjadi  melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran glukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina,  cairan pereseminal, dan air susu ibu, hubungan intim (vagina, anal maupun oral), tranfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui serta kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Penyakit ini disebabkan oleh sejenis virus. Zhilei Chen, seorang asisten profesor dari Universitas AM Texas, Amerika Serikat, secara tidak sengaja menemukan senyawa yang mampu menghancurkan virus Human Imunodeficiency Virus (HIV). Virus yang menyebabkan penyakit AIDS tersebut akan mengalami kehancuran material genetiknya ketika diberikan senyawa yang bernama Pd 404.182. Senyawa itu menghancurkan material genetik virus HIV dengan merusak RNA-nya, sehingga sulit berkembangbiak dan akhirnya tidak dapat menginfeksi manusia (metrotvnews.com).
Bagi penderita HIV-AIDS jangan bergembira dahulu, karena butuh waktu agar obat anti HIV-AIDS yang sebenarnya diciptakan. Hal ini tentunya harus menunggu pengembangan-pengembangan dari penemuan senyawa tersebut agar bisa diberikan kepada manusia, terutama bagi para penderitanya yang tersebar di seluruh dunia. Setidaknya ada tiga tahap yang harus dilalui sebelum senyawa (obat) tersebut digunakan masyarakat luas, yaitu 3 hingga 4 tahun harus diujicobakan pada hewan. Kemudian pada 4 hingga 5 tahun  harus diujicobakan  pada relawan manusia, lalu 2 tahun hingga 3 tahun untuk proses registrasi, sebelum akhirnya diproduksi dalam jumlah banyak (metrotvnews.com).
Harapan kita semua, terutama bagi penderita HIV-AIDS agar dapat sembuh dan dapat hidup normal lagi, dengan kabar ini mungkin akan memberikan sedikit angin segar bagi mereka para psakitan dan kita masyarakat pada umumnya. Tapi penulis mengkhawatirkan pola prilaku sosial manusia akan “menjadi-jadi” jika penemuan itu berhasil  menciptakan obat anti HIV-AIDS. Kita semua tahu bahwasanya salah satu penularan penyakit tersebut adalah melalui hubungan kelamin, terutama hubungan kelamin yang sering bertukar pasangan ataupun melalui “sex bebas“. Tentunya hal tersebut tidak lain karena terciptanya gaya hidup bebas dalam segala hal, termasuk dalam hubungan sex. Nah jika sekarang  masih banyak yang mengkhawatirkan ataupun takut jika menjalankan gaya hidup bebas tersebut, konon lagi jika obat tersebut berhasil diciptakan, maka mungkin tidak akan ada lagi kekhawatiran akan penyakit tersebut. Hal ini  akan membawa kepada dekadensi moral dan kekacauan kemanusiaan.  Dimana sekarang kita melihat saat obat penangkal untuk penyakit tersebut belum berhasil ditemukan, dimana masih banyak kekhawatiran akan terjangkitnya penyakit tersebut, tetapi masih banyak pergaulan sex bebas dan hubungan diluar nikah terjadi, baik di dunia barat, atau di daerah kita sendiri.
Banyak pihak bukannya malah menghilangkan gaya-gaya hidup demikian, tetapi malah mengurangi resiko terjangkitnya penyakit tersebut. Kita tahu banyak sosialisasi penggunaan kondom untuk mengurangi resiko tertularnya penyakit tersebut dan berbagai pencegahan lainnya. Kemudian dari pada pada itu lokalisasi dan tempat-tempat prostitusi lainnya terus berkembang.  Naif sekali kan?… Sebaiknya tidak demikian tindakan yang harus dilakukan. Hal yang harus dilakukan ialah menutup tempat-tempat tersebut dan memberikan sosialisasi, pendidikan, pelatihan dan modal kepada pelaku-pelakunya agar dapat hidup dengan benar.
Dan terakhir harapan penulis ialah mari kita menjalankan hidup sesuai ajaran Islam secara menyeluruh, itu adalah “senyawa” yang paling mujarab megatasi permasalah-permasalah di dunia ini, salah satunya ialah gaya hidup bebas yang menjurus kepada sex bebas ataupun sex di luar nikah yang menjadi  salah satu media penularan penyakit HIV-AIDS tersebut.  Jangan kita menggangap secara medis setelah suatu obat itu berhasil ditemukan, lalu semuanya selesai. Ingat akan ada penyakit-penyakit lain yang siap muncul  ataupun mutasi dari penyakit sebelumnya yang makin mengerikan lagi dan akan mengisi sejarah medis di dunia ini.
Pikirkan juga secara religi bahwa kesalahan-kesalahan, larangan-larangan dalam agama yang kita lakukan akan membawa akibat kepada diri kita sendiri. Akibat tersebut dapat kita rasakan baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia kita sudah dapat melihatnya seperti kasus penularan penyakit HIV-AIDS  dewasa ini salah satunya ialah melalui hubungan sex bebas yang dilarang oleh agama. Padahal Islam telah mengajarkan mana yang harus dan harus dilakukan. Semua itu untuk kebaikan kita selaku umat manusia. Islam telah melarang hubungan intim tanpa pernikahan. Islam telah melarang tindakan sex bebas. Islam telah mengajarkan kebersihan jiwa dan raga jauh sebelum permasalahan ini mencuat ke permukaan.

Hilang dan Tertukar Bayi Baru Lahir

Terharu bercampur geram mendengar berita melalui salah satu stasiun televisi swasta sekitar pukul 12.30 siang (28/9) tentang ditemukannya kembali Cello, bayi  berusia 4 hari yang sempat hilang hampir dua minggu dari sebuah rumah sakit Siti Zahroh, Tambun, Kabupaten Bekasi (15/9).
Cello dibawa oleh seorang wanita muda yang menggunakan seragam perawat rumah sakit itu saat ditinggal ibunya sejenak ke toilet dan menitipkan pada saksi yaitu salah satu orang tua pasien yang sekamar dengannya.
Saat Syifa ke kamar mandi itulah suster gadungan itu mengambil Cello. Perawat gadungan itu menyampaikan kepada saksi mata bahwa Cello akan diperiksa sebentar saja sebelum pulang dengan ibunya.
Terharu karena ibu si bayi bahagia tak terkira “merasa” menemukan kembali bayinya yang baru dilahirkan (12/9) di klinik tersebut dua minggu lalu karena dilarikan oleh penculiknya yang menyamar sebagai suster atau perawat bayi di klinik bersalin tersebut.
Frase dalam tanda petik “merasa” yang disampaikan di atas memang demikian, karena berdasarkan pengakuan sang ibu tentang Cello memiliki beberapa kesamaan umum pada bayi lainnya (sehingga memerlukan uji DNA), yaitu :
  • Bentuk wajahnya

  • Warna kulitnya

  • Rambutnya

  • Suara tangisannya
Meskipun keseluruhan ciri-ciri disebut di atas sangat bersifat umum karena pada umumnya setiap bayi hampir mempunyai kesamaan, seperti tangisannya melengking atau rambutnya yang baru sedikit, kita dapat memberikan gambaran betapa bahagianya Syifa Maisyatul  dan Jaja Nudiansyah, orang tua bayi itu dan tentu juga Cello , si bayi itu sendiri.
Geram, karena sindikat pencuri bayi semakin ganas dan berani hingga masuk ke dalam rumah sakit dan mengambil anak-anak bayi yang sedang digendong ibunya atau ditinggalkan sejenak oleh ibunya. Penculik semakin kreatif dengan menyamar sebagai perawat rumah sakit.
Bagaimana caranya agar para ibu yang baru bersalin tidak tertukar atau kehilangan bayinya? padahal informasi mengenai hal tersebut telah berulang kali diberitakan oleh berbagai media massa. Bahkan klinik bersalin pun mempunyai tatacara pengelolaan agar tidak terjadi kasus-kasus yang tidak diinginkan seperti yang terjadi pada Cello.
Akan tetapi mengapa hal ini sering terjadi? Banyak kalangan menduga adanya jaringan penculik yang bebas hilir mudik dan bekerjsama dengan pihak klinik. Dugaan ini jelas emosional meskipun kejadian itu beberapa kali terjadi di sebuah rumah sakit, klinik atau puskesmas.
Lihatlah beberapa rekaman jejak penculikan bayi atau kehilangan bayi yang baru saja dilahirkan di rumah sakit berikut ini :
  1. Alifa Zahra Amalia, bayi perempuan yang baru berusia 3 hari hilang dari RSU Banjar, Jawa barat pada  15 September 2012. Alifa buah hati Oom Komariah, dua hari kemudian ditemukan. Bayangkan, betapa hancurnya hati Oom saat merasakan cemas yang tiada tara akibat ulah penculik tak beradab tersebut.

  2. Nyonya Ona terpaksa kehilangan dua bayi kembarnya sekaligus dari Rumah Sakit Al-Falah, Ambon pada 25 September 2010 lalu karena terlalu percaya dengan seorang wanita yang baru dikenalnya di klinik tersebut sehari setelah melahirkan.

  3. Bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan ibunya (Murtanti) belasan jam sebelumnya di Puskesmas Kembangan, Jakarta Barat hilang dari pangkuan ibunya pada 8/1/2010. Seseorang perawat wanita bergaya profesional menawarkan jasa imunisasi dan membawa bayi itu ke ruang pemeriksaan. Hingga kini tidak diketahui nasibnya. Dapatkah anda bayangkan betapa hancurnya keluarga terutama Murtanti akibat ulah sindikat tidak berperikemanusiaan tersebut?

  4. Kasus tertukar bayi pun sering terjadi, salah satunya pernah terjadi di RSU Muntilan, Jawa Tengah. Bayi yang dilahirkan oleh Atun sehari sebelumnya adalah laki-laki dan telah mendapat surat keterangan dari RS. Akan tetapi setibanya di rumah ternyata bayi yang dibawa pulang itu berjenis kelamin wanita dan akhirnya diberi nama Alfina Nur Idatun.
Tentu masih banyak kisah sedih akibat ulah para sindikat penculikan bayi yang memberi dampak trauma seumur hidup kepada orang tua yang menjadi korban penculikan atau tertukar bayi. Bahkan di sebuah rumah sakit tercanggih sekalipun seperti di Arab Saudi, seorang ibu kehilangan bayinya .
Syahd yang baru saja dilahirkan di sebuah rumah sakit Angkatan Bersenjata Arab Saudi pada 18 Februari 2008 juga hilang. Padahal rumah sakit tersebut memiliki sistim penanganan lebih baik dan profesional. Keluarga si bayi tersebut menawarkan hadiah 267 ribu dolar AS bagi yang menemukan bayi tersebut. Tidak diketahui perkembangannya hingga saat ini, apakah Syahd telah ditemukan kembali apa tidak.
Berdasarkan gambaran di atas, siapakah yang paling bertanggung jawab atas peristiwa hilangnya bayi di klinik atau di rumah sakit? Rasa-rasanya tak ada yang mau disalahkan meskipun hampir merata setuju menyebutkan pihak kliniklah yang seharusnya paling bertanggung jawab.
Akan tetapi akan lebih bijaksana lagi jika kita mampu menghindar dan mengeleminir resiko kehilangan atau tertukar bayi. Berikut ini ada beberapa tips  penting yang perlu diingat untuk mengeliminir resiko kehilangan atau tertukar bayi adalah sebagai berikut :
  • Jangan mempercayakan bayi yang baru dilahirka kepada orang lain atau baru dikenal.

  • Usahakan ditemani oleh keluarga terdekat.

  • Meskipun ruang perawatan bayi dengan ruang pasien persalinan berbeda tempatnya usahakan ada keluarga terdekat yang melihatnya sewaktu-waktu.

  • Mintalah kepada rumah sakit atau klinik bersalin tanda-tanda khusus tentang bayi masing-masing.

  • Pihak pengelola klinik atau rumah sakit bersalin jika tidak ingin dianggap sebagai pihak yang bersalah karena lalai menjaga bayi pasiennya segeralah mengubah kualitas dan majemen penjagaan keamanan dan perawatan bayi, karena bagaimana pun juga pihak klinik, rumah sakit atau puskesmas memang harus bertanggung jawab keselamatan bayi yang dilahirkan di tempatnya.
Selain itu, apa dan bagaimana sikap kita dan polisi dalam menghadapi penculik anak dan bayi? Polisi haruslah sigap dan cekatan bereaksi. Lihatlah seperti yang terjadi pada kasus penculikan anak Oom. Polisi berhasil menemukan kembali sang bayi.
Pada kasus penculikan anak usia 2 tahun (Zahfa Fatiya Mubarok)  pada 5/9/2012 lalu polisi dibantu masyarakat juga berhasil menemukan bayinya dalam waktu dua hkaru. Selain itu, penculiknya Meta alias Popon yang baru dua minggu bekerja di rumah  Neneng Atiyatul Faizia berhasil diciduk.
Meskipun demikian tentu masih banyak “pekerjaan rumah” atau PR untuk polisi agar bekerja lebih otpimal dan lebih sigap menangani sindikat penculikan bayi dan anak.
Di luar itu, diharapkan efek jera harus ditingkatkan kepada para penculik anak dan bayi berserta sindikatnya. Berikan hukuman yang keras dan seberat-beratnya bahkan tanpa belas kasihan kepada sindikat penculik anak dan bayi, sama seperti mereka memperlakukan orang tua dan korban penculikannya tanpa belas kasihan hanya karena alasan-alasan yang tidak ada kaitannya sama sekali  dan bertentangan dengan tolok ukur manusia yang berbudi luhur dan beradab.
Salam Kompasiana